Jumat, 27 Maret 2020

Hidup Mengalir Dengan Multi Skenario





“Aku sih hidup mengalir saja… ,” demikian celetuk  seorang  teman.
“Ya.. kalau mengalir tanpa terkendali  itu namanya HANYUT…,” tukas saya  menimpali teman tersebut.
Kebanyakan  orang hidup mengalir mengikuti irama jaman. Kebanyakan orang pula  bertanya-tanya kenapa hidupnya tak juga maju?
Suatu ketika, dalam sebuah pelatihan tentang analisis kompetitor di PT Telkom, kami membahas tentang pentingnya Scenario Planning bagi sebuah perusahaan. Diskusi tersebut sangat seru  dan intens,  mengingat selama ini seringkali hanya ada satu perencanaan  tunggal yang menjadi  target perusahaan di awal tahun.
“Scenario Planning bukan ditujukan untuk meramalkan masa depan. Tujuan sesungguhnya  adalah untuk mengantisipasi berbagai keadaan yang mungkin terjadi…,” demikian kami jelaskan kepada peserta, mengutip pendapat Michael Porter dalam bukunya Competitive Advantage, mengenai kegunaan scenario  planning.
Mengantisipasi, itu adalah sikap yang lebih tepat daripada sekedar ‘meramalkan’ masa depan. Bila meramalkan, maka kita membuat perkiraan hal apa yang paling mungkin terjadi. Sedangkan mengantisipasi berarti membuat berbagai gambaran kemungkinan yang bisa terjadi, kemudian mengambil strategi untuk bersiap terhadap semua yang mungkin terjadi  tersebut. Dan itulah tujuan utama  scenario planning.
Scenario  Planning sendiri mulai populer di tahu 70-an ketika terjadi krisis harga minyak dunia yang tiba-tiba melambung tinggi. Saat itu bukan tidak ada minyak, tapi harga minyak melambung karena krisis politik  di Timur Tengah. Shell, adalah perusahaan minyak yang telah menerapkan  scenario planning. Di awal  tahun 70-an, Shell membuat berbagai  skenario yang mungkin terjadi, salah satunya adalah melambungnya  harga minyak dunia, suatu kondisi yang jauh dari ramalan kebanyakan para ahli ekonomi saat itu. Dan ternyata kejadiannya adalah sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ramalan, harga minyak melambung menyebabkan kelesuan ekonomi dunia. Shell, yang sudah menyiapkan diri dengan berbagai skenario tersebut mampu memanfaatkan keadaan, sehingga  melejit menjadi 3 besar dunia. Perusahaan lain yang beruntung dalam kondisi krisis minyak saat itu  adalah perusahaan-perusahaan mobil Jepang yang sukses memasarkan mobil ukuran kecil bagi pasar Amerika (salah satunya adalah Honda Civic berukuran kecil, yang tadinya dipandang skeptis akan dibeli orang Amerika).
Hidup mengalir? Itulah yang terjadi pada sebagian besar orang (dan sering berakhir menyedihkan). Sebenarnya mereka bukan tanpa rencana, namun rencana mereka tak sesuai dengan kenyataan. Jadilah mereka terhanyut oleh kehidupan. Misalnya seorang mahasiswa, biasanya dia sudah membayangkan (punya cita-cita/mimpi) bahwa nanti setelah lulus dia akan bekerja di suatu tempat dengan gaji besar, menikah dengan idamannya dan punya anak, dan begini, dan begitu seterusnya. Apa yang terjadi? Kebanyakan mimpinya tak juga terwujud. Setiap hari masih naik angkutan yang sama, pergi dan pulang pada jadwal yang  sama, dan merasakan hidupnya yang sama, tak juga maju-maju. Lebih celaka lagi sering kondisi berubah mendadak menyebabkan semua rencana kacau balau dan akhirnya hanya bisa pasrah menjalani  hidup. Itulah contoh kebanyakan hidup yang  mengalir.
“Ya kalau mengalirnya ke laut, kalau mengalirnya ke comberan… ?” gurau saya kepada teman. Maksudnya adalah, ya kalau dalam hidup ini –yang kita mengalir di dalamnya- ternyata betul membawa kita ke kondisi yang sesuai harapan dan mimpi kita (kerja keras,  naik jabatan dan naik gaji, anak-anak tumbuh cerdas, keluarga  bahagia, bisa haji dan keliling eropa, dll) tentu kita senang. Bagaimana kalau sebaliknya? Sikut-sikutan di kantor, krisis ekonomi lagi,  sekolah makin mahal, PHK, dll. Tentu hidup yang mengalir itu akan berakhir di comberan. Ini namanya  tragedi.
Yang betul adalah hidup mengalir dengan terkendali. Ibaratnya kita sedang main arung jeram menyusuri sungai, maka kalau kita menggunakan perahu karet yang baik, dengan dayung untuk kendali, bahkan dengan helm dan jaket pelampung, tentunya jauh lebih terkendali dibandingkan kita terjun ke sungai tanpa perahu karet, tanpa dayung, tanpa jaket pelampung. Menyiapkan diri dengan rakit,  dayung, dan jaket  pelampung itulah sikap seorang yang hidup dengan kendali. Kita tidak mampu mengendalikan arus sungai, namun kita selalu mampu mampu untuk mengambil sikap mengendalikan perahu kita.
Nah, kembali  ke pelatihan analisa kompetitor di Telkom tadi, kesimpulan kami  adalah sangat penting bagi perusahaan untuk menyiapkan multi skenario,  bukan sekedar skenario tunggal. Dengan adanya multi skenario itu dapat dirancang strategi yang adaptif dan mampu mengatasi apapun skenario yang akhirnya terjadi.  Berpegang hanya pada skenario tunggal menjadi sangat riskan mengingat perubahan politik, ekonomi, maupun teknologi di masa global ini bisa terjadi dengan sangat cepat.
Tiba-tiba terpikir dalam benak saya, bagaimana dengan skenario untuk diri kita sendiri? Apakah kita sudah punya multi skenario untuk masa depan? Bagaimana kalau karir kita tak berjalan mulus seperti yang kita bayangkan? Bagaimana kalau kondisi berkembang ke arah yang  berlawanan dengan apa yang kita harapkan? Apakah  kita sudah siap?
Bagaimana  dengan tahun 2007 ini? Apakah ramalan mereka yang optimis itu benar terjadi (bahwa ekonomi Indonesia akan membaik, karena kondisi makro 2006 katanya sih baik)? Atau justru ramalan mereka yang pesimis lah yang terjadi (banyak bencana, krisis ekonomi global,  ekonomi riil yang stagnan, banyak PHK)? Ah, mudah saja. Kita ambil saja semua ramalan itu menjadi multi skenario. Ada skenario positif optimis, dan ada yang negatif pesimis. Kemudian ambil beberapa strategi yang bisa mengantisipasi semua kemungkinan itu.
Jadi apa  multi skenario Anda? Apa yang Anda rencanakan andai ekonomi membaik dan bisnis Anda juga ikut melejit? Bagaimana pula kalau ekonomi membaik, sayangnya bisnis Anda tidak termasuk yang beruntung menikmatinya, apa strategi Anda? Bagaimana pula kalau kondisi memburuk, peluang apa yang akan muncul dan bisa Anda manfaatkan? Bagaimana kalau kondisi memburuk dan bisnis Anda pun memburuk, apa persiapan (jaga-jaga/tabungan) yang sudah Anda lakukan? Bagaimana  pula skenario hidup masa depan Anda, apakah sudah punya beberapa pandangan (atau hanya skenario tunggal yang –maunya- bagus-bagus dan sukses saja)? Bagaimana kalau karir melejit, dan bagaimana pula kalau karir ternyata anjlok?  Bagaimana kalau kesehatan selalu bagus, bagaimana pula bila terjadi musibah? (Bahkan  bagaimana kalau semua mimpi indah itu kandas karena ternyata kita mati muda, misalnya, sudahkah kita siap?)
Skenario  planning tampaknya layak kita terapkan buat kita sendiri, bukan  hanya untuk perusahaan kita. Tentunya biar kita menjadi lebih  bijak dan penuh  kendali saat ikut mengalir dalam kehidupan ini.
=  = =
What is scenario planning?
‘‘An internally  consistent view of what the future might turn out to be—not a  forecast, but one possible future outcome.’’ Porter, M. Competitive  Advantage
Scenarios provide alternative views of the future.  They identify some  significant events, main actors and their motivations,  and they convey how the  world functions. Building and using scenarios  can help us explore what the  future might look like and the likely  changes of living in it. Shell.com
Kembali ke judul pertama

Berfikir Beda dan Berfikir Plus



Filed  under: Kecerdasan  Emosi, Kecerdasan  Power,
Kecerdasan Intelektual, Kiat, Topik Personal
Imam Mucharror

“Kalau saya sih beda! Menurut saya sebaiknya … bla..  bla.. bla….”
Pernahkah Anda bertemu orang yang selalu  berpikir beda dengan Anda (juga  hampir semua orang lainnya)? Mula-mula  kita kagum, tapi lama-lama jengkel juga.  Rasanya hanya pendapat  dia itu yang benar, sementara pendapat orang lain itu  tidak benar,  atau paling tidak pasti ada cacatnya. Jadi, berpikir beda itu baik  atau buruk?

Think different.
Itulah  slogan perusahaan komputer Apple saat meluncurkan bentuk komputer  yang  beda di akhir tahun 90-an. Komputer yang lazim saat itu adalah  sebuah kotak CPU  (Computer Processing Unit) yang terpisah dari  monitor tabung. Apple bikin yang  beda, komputernya berupa sebuah  monitor dengan bagian atas yang bening sehingga  terlihat komponen  di dalamnya. Mana kotak CPU nya? Nggak ada, karena ternyata  CPUnya  sudah ditempelkan di bagian bawah monitor tersebut, menyatu sehingga  tidak terlihat. Komputer iMac ini laku keras luar biasa, dan membuat  perusahaan  Apple kembali diperhitungkan di pasar PC.
“Jadi  berpikir beda itu perlu?” Tunggu dulu.
Apple  berbeda dengan perusahaan lainnya. Namun andai Anda adalah karyawan  Apple saat itu, bisakah Anda berpikir beda? Belum tentu. Paling  tidak Anda harus  ikut kemauan pimpinan di Apple yang waktu itu  adalah Steve Jobs, seorang  visioner yang juga otoriter dalam menerapkan  visinya. Kalau Anda beda dengan  dia, siap-siap saja untuk ditendang  keluar. Apple itu berpikir beda dari  perusahaan komputer lainnya,  tapi berpikir sama di dalam perusahaannya.
“Jadi kapan  kita perlu berpikir beda?” Nah, ini baru pertanyaan yang  benar.
Kita  perlu berpikir beda bila kita berada dalam suasana bebas sederajat,  dimana semua perbedaan mendapat penghargaan sama. Biasanya suasana  ini ada dalam  proses kreatif (brainstorming misalnya), proses  penciptaan. Selain itu : jangan  berpikir beda!
Believe  me, berpikir beda di suasana selain suasana kreatif ternyata  berakibat  tidak menguntungkan. Secara alami, tidak ada manusia yang menyukai  perbedaan. Pepatah mengatakan, “Birds  of a feather flock together.” Burung dengan bulu yang  sama kumpul  bersama. Kalau Anda sering beda dengan rekan-rekan  Anda, pelan tapi pasti Anda  akan disingkirkan. Dan itu yang saya  lihat dari pengalaman selama ini. Apalagi,  kalau Anda sering berbeda  dengan atasan Anda terutama di rapat-rapat. Mungkin  beliau hanya  tersenyum pada Anda, dan besoknya Anda dipindahtugaskan. Kita bisa  berbeda dengan kompetitor, tapi harus sama dengan grup kita.
Loh,  bukannya buku-buku menyarankan agar kita berpikir beda? Bukankah  guru-guru manajemen juga menyarankan agar perusahaan menumbuhsuburkan  iklim beda  pendapat? Justru itu. Karena beda pendapat itu bukan  hal yang alami, maka  guru-guru manajemen berteriak-teriak agar  perusahaan menghargai perbedaan.
Berbeda itu tidak alami.  Sayangnya persis sama juga tidak alami!
Semua yang persis  sama tidaklah alami. Lihatlah diri kita, semua memiliki  keunikan  masing-masing. Kalau kita semua sama, maka kita justru menjadi lemah.  Kalau semua daun warnanya sama, dunia akan membosankan.
Jadi  bagaimana? Ini solusinya : kita menyukai yang sedikit berbeda!
Daun  yang beragam namun memiliki kesamaan. Seni yang beda namun dalam  kelompok jenis yang sama. Musik beda namun dalam genre yang sama.  Praktisnya,  yang suka musik rap tidak suka musik jazz, demikian  pula sebaliknya. Namun yang  suka rap mungkin masih bisa menerima  pop, demikian pula yang suka jazz masih  mentolerir pop. Karena  musik pop seakan di tengah-tengah, menjembatani rap dan  jazz yang  ekstrim berseberangan.
Jadi, alih-alih kita berpikir beda,  maka sebaiknya kita pakai ini saja :  BERPIKIR PLUS. Sebuah cara  berpikir lebih atau berpikir tambah.

Think Plus.
Berpikir  tambah menuntut cara yang sama sulitnya dengan berpikir beda. Dalam  berpikir plus mula-mula kita harus mampu melihat sisi positif  dari pendapat  orang lain, lalu kita tambah pendapat itu agar lebih  sempurna. Tambahan ini bisa  berupa sesuatu yang memperkuat efek  positif dari pendapat orang lain itu, atau  berupa sesuatu yang  menutupi kelemahannya. Berpikir plus ini ibarat bermain  catur  dimana kita harus meneruskan langkah yang sudah diambil orang lain.  Kita  biarkan langkah yang sudah diambil (karena itu hak dia misalnya),  kalau langkah  itu bagus maka kita tambah dengan langkah yang lebih  menajamkan untuk menyerang,  namun bila langkah itu lemah maka  kita tambah dengan langkah memperkuat posisi  sebagai antisipasi.  Berpikir plus adalah menambah dari sesuatu yang sudah ada  agar  menjadi semakin berkualitas.
Lihatlah kembali desain komputer  Apple, sebenarnya tidak secara radikal  berbeda dengan komputer  lainnya. Masih terlihat komputer, bukan? Apple masih  waras untuk  menciptakan barang baru yang tidak terlalu aneh, karena aneh bisa  berakibat ditolak pasar. Mobil juga ada berjenis-jenis, tapi masih  punya  karakteristik sama. Artinya, bahkan desain yang beda - dan  terbukti diterima  pasar - pun ternyata tidak bisa lepas dari kesamaan.  Bayangkan kalau Anda bikin  komputer dengan bentuk dinosaurus atau  mobil dengan bentuk mentimun, mungkin  hanya sedikit orang yang  akan memakainya, alias Anda hanya akan diterima  kalangan eksentrik.  Saya jadi ingat kisah sepeda motor skuter (Scooter) Vespa.  Itu adalah desain sepeda motor radikal oleh seorang desainer pesawat  terbang.  Walhasil, desain skuter mendahului jamannya. Selama 50  tahun dunia sepeda motor  didominasi oleh jenis sepeda motor bebek.  Pengguna skuter masuk kelompok  eksentrik. Hingga akhir-akhir ini  barulah desain skuter mulai mempengaruhi motor  bebek yang kian  lama kian menjadi desain bebek matic. Demikian pula dengan Anda  di perusahaan, kalau Anda betul-betul radikal berbeda, maka Anda  akan menjadi  kelompok minoritas di pojok dan harus menunggu angin  berubah agar muncul ke  permukaan. Itupun syukur-syukur kalau arah  angin memang akan berubah.
Berpikir plus. Tambahin pendapat  orang lain agar menjadi lebih sempurna.  Letak ‘berpikir beda’  kita tempatkan pada kemampuan menemukan hal yang dapat  menambah  kesempurnaan usul orang lain.
Saya kutip di sini sebuah  cerita yang disampaikan Stephen Covey, penulis buku  Seven Habits.  Suatu ketika saat memberikan konsultasi, Covey melihat suatu  kejadian  di sebuah kantor dimana pimpinannya sangat otoriter. Banyak karyawannya  tidak puas, dan kebanyakan membicarakan yang buruk tentang si  bos itu. Namun ada  seorang karyawan, katakanlah namanya Ben, mempunyai  sikap berbeda dengan  rekannya yang lain. Ben adalah orang yang  pro aktif. Ketika rekan-rekannya  menjauhi pimpinan tersebut, Ben  justru berusaha mendukung dengan cara yang  positif. Setiap tugas  yang diberikan kepada Ben dikerjakan dengan baik. Lebih  jauh dari  itu Ben selalu ‘menambah’ dengan analisis tambahan yang ternyata  memang diperlukan oleh pimpinan. Ben senantiasa berpikir plus,  memberikan lebih  dari yang diminta. Lama-kelamaan pimpinan tersebut  makin percaya dan makin  bergantung kepada Ben. Kalau biasanya  dia memutuskan sendiri, maka kini dia  meminta pertimbangan dari  Ben. Beberapa tahun kemudian Ben menggantikan bos  tersebut untuk  memimpin perusahaan. Dalam cerita itu tampak bahwa walaupun  mungkin  Ben tidak setuju seperti rekan lainnya, namun dia bertindak pro  aktif  dan menggunakan cara berpikir plus untuk mendukung pimpinannya.  Dengan  menggunakan sikap pro aktif berarti dia memberdayakan kecerdasan  emosinya (EQ),  dengan berpikir plus berarti menggunakan kecerdasan  intelektualnya (IQ), dan  dengan tetap mendukung pimpinannya berarti  dia menggunakan kecerdasan powernya  (PQ).
Berpikir plus.  Itulah usul saya bila Anda sekarang adalah bawahan yang masih  senang  di tempat Anda bekerja sekarang. Kalau Anda ternyata seorang bos  yang  tidak punya atasan? Ya bebas saja silahkan menurut Anda.  Untuk level bos, Anda  bebas untuk berpikir beda atau bahkan tidak  berpikir sama sekali.


Sabtu, 07 Maret 2020

UMMATAN WAHIDATAN


Seseorang yang menempuh perjalanan menuju ridla Allah, dia akan menemukan dirinya sebagai hamba Allah manakala ia melakukan apa yang diperintahkan Allah. Dalam penemuan dirinya itulah dia juga menemukan orang lain sebagai hamba Allah. Dengan demikian, hubungan seseorang dengan orang lain menjadi utuh. Sebuah kesadaran bahwa sesungguhnya kita adalah satu. Dalam citra social harus diarahkan untuk menciptakan keutuhan umat manusia. Inilah yang diimpikan Nabi Ibrahim a.s. untuk menjadikan umat manusia sebagai umat yang satu (Ummatan Wahidatan).
Manusia adalah hamba Allah, apapun agama, ideologi, bahasa dan rasnya. Dari hamba yang baik, suatu ketika akan diangkat Allah menjadi khalifah Tuhan di muka bumi. Maka cita-cita sosial dari seorang hamba Allah adalah menyatukan umat manusia, menganggap umat manusia itu utuh, sependeritaan dan senasib. Ini merupakan penemuan identitas yang paling benar dan mendasar. Hanya dengan demikian, kesejahteraan di atas dapat tercipta, saling memikul beban, mencegah adanya peperangan dan permusuhan.
Bagaimana untuk dapat menciptakan tatanan social yang tunggal? Jawabannnya adalah merujuk pada kesatuan asal usul dengan tidak menyekutukan Tuhan. Tujuannya harus satu, kita jangan terperangkap dalam hal-hal yang menyebabkan perpecahan dalam umat manusia. Kesalahan orang lain justru merupakan medan bagi kita untuk membenahi kesalahannya. Adanya orang yang salah menjadikan yang benar mempunyai makna. Jika tidak ada orang kafir, maka orang mukmin akan menjadi tidak ada manfaat dan maknanya.
Karena umat Islam mempunyai ide untuk menyatukan umat manusia, maka ide itu tidak terealisasi kalau kita sendiri tidak dalam keadaan utuh. Bagaimana kita bisa menyatukan umat manusia bila dalam diri kita masih pecah? Oleh karena itu, konsep rukun Islam harus dipahami secara integral dan filosofis.

DAHSYATNYA SYAKARATUL MAUT


Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri”. (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).
Datangnya Kematian Menurut Al Qur’an :
1. Kematian bersifat memaksa dan siap menghampiri manusia walaupun kita berusaha menghindarkan resiko-resiko kematian.
Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh". Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (QS Ali Imran, 3:154)
2. Kematian akan mengejar siapapun meskipun ia berlindung di balik benteng yang kokoh atau berlindung di balik teknologi kedokteran yang canggih serta ratusan dokter terbaik yang ada di muka bumi ini.
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? (QS An-Nisa 4:78)
3. Kematian akan mengejar siapapun walaupun ia lari menghindar.

Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". (QS al-Jumu’ah, 62:8)
4. Kematian datang secara tiba-tiba.

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS, Luqman 31:34)
5. Kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS, Al-Munafiqun, 63:11)
Dahsyatnya Rasa Sakit Saat Sakaratul Maut
Sabda Rasulullah SAW : “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi)
Sabda Rasulullah SAW : “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari)

Atsar (pendapat) para sahabat Rasulullah SAW .
Ka’b al-Ahbar berpendapat : “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”.
Imam Ghozali berpendapat : “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”.
Imam Ghozali juga mengutip suatu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada Allah SWT agar Ia menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka bisa mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang pria yang muncul dari salah satu kuburan. “Wahai manusia !”, kata pria tersebut. “Apa yang kalian kehendaki dariku? Limapuluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dariku.”
Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeda untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang. Mustafa Kemal Attaturk, bapak modernisasi (sekularisasi) Turki, yang mengganti Turki dari negara bersyariat Islam menjadi negara sekular, dikabarkan mengalami proses sakaratul maut selama 6 bulan (walau tampak dunianya hanya beberapa detik), seperti dilaporkan oleh salah satu keturunannya melalui sebuah mimpi.
Rasa sakit sakaratul maut dialami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkat rasa sakit, ini tidak terkait dengan tingkat keimanan atau kezhaliman seseorang selama ia hidup. Sebuah riwayat bahkan mengatakan bahwa rasa sakit sakaratul maut merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak. Demikianlah rencana Allah. Wallahu a’lam bis shawab.

Sakaratul Maut Orang-orang Zhalim
Imam Ghozali mengutip sebuah riwayat yang menceritakan tentang keinginan Ibrahim as untuk melihat wajah Malaikatul Maut ketika mencabut nyawa orang zhalim. Allah SWT pun memperlihatkan gambaran perupaan Malaikatul Maut sebagai seorang pria besar berkulit legam, rambut berdiri, berbau busuk, memiliki dua mata, satu didepan satu dibelakang, mengenakan pakaian serba hitam, sangat menakutkan, dari mulutnya keluar jilatan api, ketika melihatnya Ibrahim as pun pingsan tak sadarkan diri. Setelah sadar Ibrahim as pun berkata bahwa dengan memandang wajah Malaikatul Maut rasanya sudah cukup bagi seorang pelaku kejahatan untuk menerima ganjaran hukuman kejahatannya, padahal hukuman akhirat Allah jauh lebih dahsyat dari itu.
Kisah ini menggambarkan bahwa melihat wajah Malakatul Maut saja sudah menakutkan apalagi ketika sang Malaikat mulai menyentuh tubuh kita, menarik paksa roh dari tubuh kita, kemudian mulai menghentak-hentak tubuh kita agar roh (yang masih cinta dunia dan enggan meninggalkan dunia) lepas dari tubuh kita ibarat melepas akar serabut-serabut baja yang tertanam sangat dalam di tanah yang terbuat dari timah keras.
Itulah wajah Malaikatul Maut yang akan mendatangi kita kelak dan memisahkan roh dari tubuh kita. Itulah wajah yang seandainya kita melihatnya dalam mimpi sekalipun maka kita tidak akan pernah lagi bisa tertawa dan merasakan kegembiraan sepanjang sisa hidup kita. 

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu". Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (QS Al-An’am 6:93)
(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat lalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); "Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun". (Malaikat menjawab): "Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan". Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu. (QS, An-Nahl, 16 : 28-29)
Di akhir sakaratul maut, seorang manusia akan diperlihatkan padanya wajah dua Malaikat Pencatat Amal. Kepada orang zhalim, si malaikat akan berkata, “Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik, engkaulah yang membuat kami terpaksa hadir kami ke tengah-tengah perbuatan kejimu, dan membuat kami hadir menyaksikan perbuatan burukmu, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan burukmu. Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik ! “ Ketika itulah orang yang sekarat itu menatap lesu ke arah kedua malaikat itu.
Ketika sakaratul maut hampir selesai, dimana tenaga mereka telah hilang dan roh mulai merayap keluar dari jasad mereka, maka tibalah saatnya Malaikatul Maut mengabarkan padanya rumahnya kelak di akhirat. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tak seorangpun diantara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan padanya tempatnya di surga atau di neraka”.
Dan inilah ucapan malaikat ketika menunjukkan rumah akhirat seorang zhalim di neraka, “Wahai musuh Allah, itulah rumahmu kelak, bersiaplah engkau merasakan siksa neraka”. Naudzu bila min dzalik!

Sakaratul Maut Orang-orang Yang Bertaqwa
Sebaliknya Imam Ghozali mengatakan bahwa orang beriman akan melihat rupa Malaikatul Maut sebagai pemuda tampan, berpakaian indah dan menyebarkan wangi yang sangat harum.

Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: "Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab: "(Allah telah menurunkan) kebaikan". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Assalamu alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan". (QS, An-Nahl, 16 : 30-31-32)
Dan saat terakhir sakaratul mautnya, malaikatpun akan menunjukkan surga yang akan menjadi rumahnya kelak di akhirat, dan berkata padanya, “Bergembiaralah, wahai sahabat Allah, itulah rumahmu kelak, bergembiralah dalam masa-masa menunggumu”.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Semoga kita yang masih hidup dapat selalu dikaruniai hidayah-Nya, berada dalam jalan yang benar, selalu istiqomah dalam keimanan, dan termasuk umat yang dimudahkan-Nya, selama hidup di dunia, di akhir hidup, ketika sakaratul maut, di alam barzakh, di Padang Mahsyar, di jembatan jembatan Sirath-al mustaqim, dan seterusnya.

Amin !





HAK SEMUA YANG HIDUP & MATI


Segala sesuatu yang hidup memiliki hak hidup, kebutuhan hidup, daya hidup, potensi hidup --yang satu dengan yang lain berbeda-beda. Misalnya, kita memelihara seekor kelinci, seekor kucing, seekor anjing dan seekor kambing, lalu kita beri makan dengan makanan yang sama (semua harus makan rumput), maka niscaya kucing dan anjing akan mati. Ini menggambarkan bahwa setiap makhluk hidup memiliki kebutuhan yang berbeda-beda dalam mempertahankan kehidupannya dan dalam menumbuhkan makna keberadaannya. Dengan ilustrasi tersebut, kita pun harus peduli terhadap kebutuhan orang lain yang berbeda-beda pula.
Rasulullah s.a.w. senantiasa melayani kebutuhan umatnya yang berbeda-beda. Ketika seseorang datang meminta do’a agar ia bisa menjadi kaya, maka diberikannya do’a supaya ia menjadi kaya. Tetapi, ada seseorang yang datang meminta do’a agar ia menjadi seorang miskin yang sabar, maka diberikannya do’a agar ia menjadi seorang  miskin yang sabar. 
Kaya dan miskin adalah selera dan hak individu. Karena itulah Rasulullah s.a.w tidak melarang hak dan kemauan mereka. Seorang sahabat bernama Utsman Bin Affan memohon kepada Rasulullah s.a.w., “Ya, Rasulullah, berilah saya do’a agar saya menjadi seorang yang kaya di dunia dan kaya di akhirat.” Terkejut Rasulullah s.a.w. lalu katanya, “Inilah do’a yang pertama kali diminta oleh ummatku.” Maka dituntunlah Utsman bin Affan dengan sebuah do’a sebagaimana yang ia minta. Dalam realitasnya, Ustman bin Affan kita kenal sebagai salah satu di antara Khulafa al-Rasyidin yang paling kaya. 
Kesediaan Rasulullah s.a.w. melayani permintaan umatnya yang berbeda-beda itu, tidak lain karena beliau menghargai kebutuhan setiap individu yang berbeda-beda pula. Setiap manusia memiliki ketenangan jiwa dengan cara yang tidak sama. Rasulullah s.a.w. menghargai perbedaan dan perbedaan-perbedaan itu diresponnya dengan memberikan do’a-do’a sebagaimana yang mereka inginkan.

WAJAH ALLAH


Kajian Islam ini tentang  bukan pembahasan yang berkutat pada masalah syari’at. Dalam hal syari’at, setiap muslim tentu telah memiliki mazhab dan melaksanakannya menurut latar belakangnya sendiri-sendiri. Semua mazhab syari’ah yang dianut oleh masing-masing orang adah sah-sah saja.  Pada kajian ini, tidak bermaksud mengubah apapun yang telah dimiliki masing-masing.
Masalah yang kurang mendapat sentuhan di kalangan Umat Islam ialah masalah pandangan hidup, sikap aktual dalam bermasyarakat dan proses berkomunikasi dengan dunia luar. Pada dasarnya sebaik-baik ibadah seseorang, namun jika tidak memiliki pandangan hidup yang benar, maka penampilan ibadahnya menjadi  “compang-camping”; penampilan yang tidak etis dan tidak menghargai orang lain. Padahal di dalam kehidupan, kita yakin bahwa tidak ada manusia kembar (tidak semuanya sama), maka tidak semua pendapat manusia itu sama. Brbagai perbedaan inilah yang seharusnya mendapat perhatian.
Selama ini, kita mendapat pengajaran dari lingkungan atau nara sumber untuk menghargai orang yang sama dengan diri kita. Kita jarang diajar untuk menghargai orang yang berbeda pendapat dengan kita. Justru yang kedua inilah yang terpenting. Bahwa kita tidak berhak menuntut pihak lain untuk sama dengan diri kita. Itulah makna ‘bereksistensi’, yaitu hidup bersama orang lain.
Bereksistensi adalah proses mewujud, sedang bermaujud senantiasa bersama pihak lain yang berbeda dengan diri kita. Di sini kita akan menemukan makna kehadiran orang lain, sehingga kita sadar betapa tingginya keberadaan pihak lain di hadapan kita.
Proses pengembangan diri dan pencarian sarana bagi diri seseorang akan bergantung pada kreativitas orang lain. Nasi yang kita makan bukan berasal dari padi yang kita tanam sendiri; baju yang kita pakai bukan yang kita hasil tenunan sendiri; rumah yang kita galang bukan karya sendiri. Semua fasilitas yang menyertai kita pada dasarnya adalah hasil kreativitas pihak lain. Demikian realitas manusia yang tidak lepas dari tolong menolong di dalam memenuhi kebutuhannya, mengembangkan dan menyempurnakan dirinya. Tanpa orang lain, seseorang tidak akan tumbuh menjadi besar, berkembang dan mampu menyempurnakan diri. Justru sebaliknya, dengan adanya orang lain. Dengan kebersamaan tersebut, seseorang akan menemukan dirinya menjadi lebih baik. karena ia senantiasa mendapat tawaran-tawaran nilai, kritikan-kritikan dan nasihat-nasihat.
Manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa hidup bersama manusia lain. Dengan adanya hidup bersama orang lain, maka sikap yang harus kita miliki adalah menghargai orang lain karena “kelainannya”. Kelainan ini berarti; ia memiliki sesuatu yang tidak kita miliki, sebaliknya, kita mempunyai sesuatu yang orang lain tidak punya. Akan tetapi, kelainan tersebut bukanlah sesuatu yang tidak dapatisa dicari titik temunya. Pada dasarnya, kelainan tersebut adalah kelainan yang bersifat pribadi. Semantara  titik temunya adalah sama-sama ingin hidup dan berkembang, sama-sama ingin tumbuh dan menjadi baik dan akhirnya sama-sama ingin menjangkau kesempurnaan. Olah karena itu, sikap yang harus dikembangkan dalam dalam hidup bersama adalah  menghargai orang lain karena “kelainannya”. 
Terdapat salah satu kisah dalam kumpulan cerita tentang kearifan tradisi Timur karya Anthony De Mello, seorang Belanda. Seorang sufi bercerita bahwa ada seekor kera sedang melompat-lompat  dan bermain-main di antara ribunnya pepohonan di tengah hutan. Sambil mencari makan, kera itu akhirnya sampai di tepi sebuah danau. Kera itu tertegun tatkala melihat ke dalam danau ada ikan. “Oh, kasihan”,  kata kera. Lalu ia mencebur ke dalam air dan berkata: “Sebaiknya aku tolong ikan ini biar tidak tenggelam,”. Dengan susah payah kera itu menangkap ikan dan membawanya ke daratan serta diletakkannya di bawah pohon. Namun apa yang terjadi, ikan pun meronta-ronta. Kemudian seseorang mendekat dan bertanya, “Hai kera, apa yang sedang kau lakukan?” “Saya sedang menolong dia yang tercebur ke dalam air,” jawabnya. “Oh, tidak kawan! Kamu tidak sedang menolong, tetapi kamu sedang memberi bencana bagi itu.”
Jadi, orang yang bersikap bahwa orang lain harus seperti dirinya, sama halnya dengan sikap kera terhadap ikan tadi. Biarlah ikan menjadi ikan yang hidupnya di dalam air, sejahtera di dalam air, meskipun kera di dalam air bisa mati tenggelam. Demikianlah seharusnya kita menghargai orang lain sesuai dengan kelebihan dan kekurangannya, tidak mendaulat orang lain harus sama seperti diri kita. Justru kita harus menghargai orang lain karena “kelainannya”.

Sleman, Sabtu 7 Maret 2020