Selasa, 02 Juni 2020

DUNIA ANAK ADALAH DUNIA BERMAIN




DUNIA ANAK ADALAH DUNIA BERMAIN
Imam Mucharror

Awalnya, bermain belum mendapat perhatian khusus dari para Ahli Psikologi. Hal ini disebabkan karena keterbatasan pengetahuan tentang Psikologi Perkembangan Anak dan kurangnya perhatian mereka terhadap perkembangan anak.
Di antara tokoh yang dianggap paling berjasa dalam meletakkan dasar permainan adalah Plato, seorang filosof Yunani kuno yang hidup kira-kira pada tahun 470-390 SM. Plato dianggap sebagai orang per­tama yang menyadari betapa pentingnya bermain jika ditinjau dari segi nilai praktisnya. Menurut Plato, anak-anak akan lebih mudah mempelajari Aritmetika dengan cara membagi-bagikan Apel kepada anak-anak. Juga melalui pemberian alat permainan miniatur balok-balok kepada anak usia 3 tahun, pada akhirnya akan mengantar anak tersebut menjadi seorang Ahli Bang­unan.
Filosof lainnya, Aristoteles (384-322 SM), ber­pendapat bahwa anak-anak perlu didorong untuk ber­main dengan apa yang akan mereka tekuni di masa dewasa nanti. Namun jauh-jauh sebelum Comenius (abad 17 M), Rousseau, Pestalozzi, dan Frobel (abad 18 dan awal abad 19) berbicara tentang pendidikan anak, di belahan Timur pada tahun 571-632 M., Mu­hammad s.a.w. dengan penuh kemantapan menata Ilmu Pengetahuan, khususnya yang berkenaan dengan etika atau akhlak kerumahtanggaan secara detail.
Dalam kaitannya dengan bermain, Muhammad s.a.w. tampaknya telah lebih dahulu mengajarkan bagaimana seharusnya memperlakukan anak-anak dengan memberi contoh menimang dan memanjakan cucu-cucunya, Hasan dan Husain, bermain kuda-kudaan, bermain ciluk ba, dan lain sebagainya. Sehingga wajar jika dalam hal ini, Imam al-Ghazali, seorang filosof Muslim yang hidup antara tahun 1059-1111 M. meman­dang bahwa anak adalah amanat bagi kedua orang tuanya. Hatinya yang masih suci adalah permata yang amat mahal. Apabila ia diajari dan dibiasakan untuk berbuat kebaikan, maka ia akan tumbuh pada kebaikan itu dan mendapatkan ke­bahagiaan di Dunia dan di Akhirat. Tetapi, apabila dibiasakan untuk berbuat kejahatan dan dibiarkan seperti binatang, maka ia akan sengsara dan binasa. Cara membesarkan anak yang baik adalah dengan mendidik dan mengajarkan akhlak yang mulia pada­nya.
Selanjutnya, bermain-main dalam pandangan al-Ghazali adalah sesuatu yang sangat penting. Sebab, melarangnya dari bermain-main seraya memaksanya untuk belajar terus menerus dapat mematikan hatinya, mengganggu kecerdasannya, dan merusak irama hidupnya. Sedemikian rupa pengaruhnya sehingga ia akan berupaya melepaskan diri sama sekali dari kewajibannya untuk belajar.
Merujuk pada temuan Dr. Asma Hasan Fahmi (1975), sesungguhnya jika dipandang sebagai metode, bermain dalam pendidikan Islam sudah tidak disangsi­kan lagi keberadaan­nya, sejak semula sudah ada dalam Islam hingga sekarang ini. Pendidikan Islam sangat menghargai dan memperhatikan kebutuhan anak-anak terhadap permainan. Sebab, permainan merupakan satu hal yang penting bagi perkembangan inteligensi dan fisik-motorik (jasmaniah) anak.
Bermain merupakan dunianya anak-anak. Di mana dan dengan siapa mereka berkumpul, di situ pula akan muncul permainan. Melalui bermain mereka akan mengenal sekaligus belajar berbagai hal tentang kehidupannya, juga dapat melatih keberanian dan menumbuhkan kepercayaan diri, baik dengan memper­gunakan alat (peraga) maupun tidak memakainya.
Usia pra-sekolah (TK) merupakan usia paling peka bagi anak. Karena itu, ia menjadi titik tolak paling strategis untuk mengukir kualitas seorang anak di masa depan. Anak kaya akan daya khayal, daya pikir, rasa ingin tahu, dan kreativitas yang tinggi. Para Ahli Psikologi anak mengatakan bahwa kreativitas anak dimulai sejak usia 3 tahun dan mencapai puncak­nya sampai berumur 4,5 tahun.
Operasionalisasi pendidikan bagi anak-anak usia dini dan anak-anak pra sekolah (TK) akan lebih bermakna jika dilakukan melalui metode pendidikan yang menyenangkan, edukatif, sesuai dengan minat, dan bakat serta kebutuhan pribadi anak. Oleh karena itu, mereka butuh permainan sebagai media pendidik­an di dalam pembelajaran di sekolah. Alat bermain tidak harus mahal, unsur mendidiklah yang harus di­utamakan. Akan lebih jelas lagi jika dalam menyam­paikan materi pelajaran dengan pendekatan belajar sambil bermain.
Berbicara tentang permainan anak-anak se­sungguhnya sama saja dengan mempermasalahkan salah satu cara bagaimana anak-anak diberi kesempat­an untuk mendewasakan diri dalam lingkungannya. Permainan bukan hanya terkait dengan alat-alat per­mainan, kawan bermain, tempat bermain, dan ling­kungan hidup, tetapi terdapat hal-hal yang jauh lebih luas cakupan di dalamnya. Melalui permainan, anak-anak dapat mengekspresi­kan diri untuk memperoleh kompensasi atas hal-hal yang tidak mungkin dialami­nya. Dengan bermain dan menggunakan alat-alat per­mainan inilah anak-anak mengadaptasikan dirinya terhadap lingkungannya.
Menurut Hans Daeng (1982), permainan dapat dikatakan universal sifatnya, karena hidup pada se­mua masyarakat di dunia. Tidak ada psikolog atau pendidik pun yang menolak pendapat yang menyata­kan bahwa permainan atau bermain adalah bagian mutlak dari kehidupan anak dan merupakan bagian integral dari proses pembentukan kepribadian anak. Artinya, dengan dan dari permainan itu anak belajar hidup.
Melalui permainan, anak-anak dapat berkenal­an dengan orang-orang dan hal-hal yang mengelilingi­nya sehingga mereka menjadi akrab. Perlahan namun pasti, anak-anak berkembang menjadi anggota ma­syarakat­nya. Dalam ada bersama, bermain bersama, mereka tidak saja menggunakan alat-alat permainan, tetapi dengan kata-kata khusus mereka saling adu argumen dan pendirian bila terjadi penyelewengan dari peraturan permainan yang mereka sepakati. Kata-kata “ejek” tercipta bila ada yang kalah; kata-kata “penyemangat” terdengar merangsang untuk yang kalah maupun yang menang.
Permainan merupakan gejala umum yang ter­jadi di dunia hewan maupun manusia. Permainan tidak mengenal lingkungan dan stratifikasi sosial, bisa hinggap di masyarakat kecil pedesaan maupun kong­lomerat perkotaan, disenangi anak-anak, pemuda maupun orang dewasa. Permainan merupakan ke­sibukan yang ditentukan oleh sendiri, tidak ada unsur paksaan, desakan atau perintah, dan tidak mempunyai tujuan tertentu.
Keluarga mempunyai tugas fundamental dalam mempersiapkan anak bagi peranannya di masa depan. Dasar-dasar perilaku, sikap hidup, dan berbagai ke­biasaan ditanamkan kepada anak sejak dalam ling­kungan keluarga. Semua dasar yang menjadi landasan bagi pengembangan pribadinya itu tidak mudah berubah. Oleh sebab itu, penting sekali diciptakan lingkungan keluarga yang baik, dalam arti menguntung­kan bagi kemajuan dan perkembangan pribadi anak serta mendukung tercapainya tujuan pendidikan yang dicita-citakan.
Menurut Hery Noer Aly (1999) lingkungan ke­luarga yang baik, sekurang-kurangnya mempunyai tiga ciri, yaitu: Pertama, keluarga memberikan suasana emosional yang baik bagi anak-anaknya, seperti perasa­an senang, aman, disayangi, dan dilindungi. Kedua, mengetahui dasar-dasar kependidikan, terutama ber­kenaan dengan kewajiban dan tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anak serta tujuan dan isi pendidikan yang diberikan kepadanya. Ketiga, bekerja sama dengan pusat pendidikan tempat orang tua meng­amanatkan pendidikan anaknya.
Di antara tujuan terpenting dari pembentukan keluarga menurut Abdurrahman an-Nahlawy (1995) ialah untuk mewujudkan ketenteraman dan ketenangan psikologis, untuk memenuhi kebutuhan cinta kasih anak-anak. Karena naluri menyayangi anak merupa­kan potensi yang diciptakan Allah bersamaan dengan penciptaan manusia dan binatang serta untuk menjaga fitrah anak agar tidak melakukan penyimpangan-penyimpangan. Karena dalam konsep Islam, keluarga adalah penanggung jawab utama terpeliharanya fitrah anak.
Karena keluarga merupakan tempat pendidikan pertama dan utama bagi anak, maka suasana kehidup­an rumah tangga (suami-istri) juga harus memperhati­kan kebutuhan anak dalam menciptakan suasana emosional yang baik. Dengan kata lain, orang tua hendaknya menjaga kondusifitas keluarga.
Rasa kasih sayang serta ketenteraman yang dirasakan bersama dalam keluarga akan membuat anak tumbuh dan berkembang dalam suasana bahagia. Kebahagiaan itu pada gilirannya akan memberikan anak rasa percaya diri, tenteram, cinta serta menjauh­kan diri dari rasa gelisah, dan berbagai penyakit mental yang dapat melemahkan kepribadiannya.
Mengingat pentingnya tugas dan tanggung jawab keluarga dalam pembentukan anak-anak yang kreatif, maka orang tua harus dapat memenuhi kasih sayang serta menjaga dan mengembangkan potensi dasar kreativitas anak. Orang tua juga harus dapat memberikan perhatian yang penuh terhadap hal-hal yang dapat mendukung anak melakukan kegiatan kreatif. Jika ditemukan anak terhenti kreativitasnya, maka lebih disebabkan karena ketidakwaspadaan orang tua terhadap perkembangan psikologis anak.
Pada hakikatnya, anak dilahirkan dengan mem­bawa “potensi dasar” (fitrah), maka kewajiban orang tua ialah membimbing dan membina fitrah tersebut pada arah yang dapat menguntungkan bagi perkem­bangan kecakapan dan motorik anak, sehingga ia akan benar-benar menjadi generasi kreatif dan mandiri.
Pentingnya bermain bagi perkembangan ke­pribadian anak telah diakui kebenarannya secara uni­versal. Bermain merupakan salah satu kebutuhan da­sar manusia dewasa maupun anak-anak. Kesempatan bermain dan rekreasi akan memberikan kegem­biraan serta kepuasan emosional tersendiri, karena bermain merupakan kegiatan spontan dan kreatif, yang dengan­nya seseorang dapat menemukan ekspresi diri secara sepenuhnya.
Sederet Ahli Filsafat seperti Plato dan Aristo­teles, serta Ahli Pendidikan seperti Comenius, Rous­seau, Pestalozi, Froebel, al-Ghazali, Avicenna (Ibnu Sina), dan Ibnu Khaldun menekankan betapa penting­nya permainan bagi seorang anak. Bagi mereka, ber­main dipandang sebagai kegiatan alamiah anak dalam mendapatkan pengalaman-pengalaman, alat menemu­kan kreativitas, serta sarana untuk mengembangkan kecerdasan.
Unsur-unsur afeksi, kognisi maupun psikomotor yang terdapat dalam diri anak sudah selayaknya sejak dini terbiasa diaktifkan demi mendapatkan kecerdasan yang berkualitas. Melalui permainanlah ketiga unsur pokok pendukung intelek­tualitas anak dapat lebih mudah ditangkap, karena permainan merupakan sarana belajar yang paling efektif dan menyenang­kan. Sehingga tidaklah mengherankan jika kemudian lahir Metode Quantum yang membawa anak kepada suasana belajar yang menyenangkan dan mengasyikkan, tidak menghadapkan anak kepada suasana belajar yang menjemukan.
Montessori (1961) menggambarkan anak yang sedang bermain berada dalam keserasian sepenuhnya dengan hukum dasar dari aktivitas alamiah. Rogers juga menekankan bahwa salah satu kondisi internal untuk kreativitas konstruktif adalah kemampuan un­tuk bermain dengan unsur-unsur dan konsep-konsep.
Menurut Teori Rekapitulasi, melalui bermain anak dapat melewati tahap-tahap perkembangan yang sama dari per­kembangan sejarah umat manusia. Me­lalui kegiatan bermain, anak dapat memuaskan ke­inginannya yang terpendam atau mungkin tertekan. Oleh karenanya penganut Mazhab Psikoanalisis me­nyebutkan bahwa dalam bermain anak seolah-olah mencari kompensasi untuk mengekspresikan apa-apa yang tidak ia peroleh dalam kehidupan nyata (imitasi), dengan cara inilah mereka akan mendapatkan pe­muasan.
Peranan orang tua dalam mengarahkan anak sehingga diperoleh kesenangan dan kepuasan ter­utama dalam menemu­kan jenis mainan yang tepat untuk perkembangan totalitas kepribadian anak amat penting. Sebab, selama ini ada yang mengukur per­kembangan anak hanya dari sudut kecerdasan, atau pencapaian prestasi akademik di sekolahnya saja. Namun, di kemudian hari terbukti bahwa di lapangan pekerjaan, “tingkat kepandaian” (IQ) bukanlah satu-satunya tolok ukur keberhasilan anak. Ada kematang­an perkembangan lain yang berpengaruh yaitu emoti­onal quotient (EQ; kecerdasan emosional) dan spiritual quotient (SQ; kecerdasan spiritual).
Anak yang mengenal diri sendiri dan lingkung­annya akan tahu pula cara berinteraksi dengan ling­kungan agar kehidupan berjalan serasi, atau berbuat sesuatu yang tidak mengancam kehidupan di antara orang banyak. Ia pun belajar mempertemu­kan banyak keinginan dalam suatu situasi.
Idealnya anak diperkenalkan dengan berbagai jenis mainan, baik yang lama maupun yang baru. Man­faatnya adalah, mendidik anak untuk mampu memilih dan membedakan apa yang ia butuhkan. Agar anak mampu memilih, orang tua dituntut mengomunikasi­kan mainan apa yang boleh dan tidak boleh dibeli, dilengkapi dengan alasan-alasan. Penjelasan itu bisa sangat beragam mulai dari segi keamanan, tingkat kesulitan, harga, atau alasan logis lainnya. Penjelasan demikian benar-benar harus ditanamkan sehingga tidak terjadi selisih paham yang mampu mengakibat­kan kekecewaan, misalnya, rasa kurang disayang. Cara ini secara tidak langsung juga melatih anak untuk dapat menjadi dirinya sendiri. Ia tidak mudah terpeng­aruh bujukan mainan yang sedang trend namun kurang bermanfaat.
Oleh karenanya dalam memberikan kesempat­an bermain, orang tua atau guru perlu mengklasifikasi­kan jenis serta bentuk permainan yang lebih tepat. Artinya, dalam memilih permainan sebaiknya orang tua tidak asal memilih, tetapi harus memperhatikan unsur edukatif yang terdapat dalam permainan ter­sebut.
Menurut Zakiyah Darajat (1976), permainan mempunyai peranan penting dalam pembinaan pri­badi anak. Hal senada juga diperkuat Joan Freeman dan Utami Munandar (1995) yang menyebutkan bah­wa pada umumnya para pakar sepakat bermain meru­pakan suatu aktivitas yang membantu anak mencapai perkembangan yang utuh, baik fisik, intelektual, sosial, moral, dan emosional anak.
Sesungguhnya setiap anak memiliki potensi kreatif. Beberapa di antaranya memilikinya lebih dari­pada yang lain. Tetapi tidak ada anak yang tidak kre­atif sama sekali. Terutama pada anak-anak usia pra sekolah, mereka memiliki kreativitas yang alamiah yang sangat besar. Sayangnya, orang tua atau pendidik masih banyak yang kurang menyadari dan menghargai akan pentingnya kreativitas anak. Kreativitas bukan­lah merupakan kebebasan untuk melakukan segala hal tanpa batas.

Senin, 01 Juni 2020

KATA HATI


KATA HATI

KATA adalah ungkapan perasaan seorang manusia tentang apa yang ingin dikomunikasikannya, entah kepada dirinya sendiri atau kepada orang lain, di saat apapun atau dimanapun. Penyampaian kata merupakan cerminan tentang apa yang dialami seseorang yang menyangkut rasa, etika, estetika, seni, nafsu, pemikiran dan budaya.

Cobalah lihat sekeliling kita, maka akan dapat kita ketahui siapakah kita sesungguhnya dengan meneliti cara penyampaian kata yang diucapkan seseorang yang banyak sekali berada di sekitar kita. Disadari atau tidak, kita setiap hari disuguhi sebuah pelajaran yang dapat kita petik hikmahnya untuk menata hidup dan kehidupan kita dalam menghadapi hari esok yang dipenuhi berbagai tantangan, dimana akan menentukan tanggung jawab kita di lingkungan kehidupan sosial kita yang sesungguhnya.

Secara fitrah manusia maka setiap hari kita dituntut untuk berbuat kebaikan dan kebajikan. Perbuatan kita itu pastilah digerakkan oleh pikiran kita dimana hasil pemikiran tersebut akan dikontrol oleh hati sanubari atau kalbu kita dimana isi pengontrolan itu adalah suatu yang murni dan jujur serta berisikan nilai-nilai luhur (values). Ungkapan isi pengontrolan inilah yang disebut sebagai KATA HATI yang menentukan derajad dan martabat seorang manusia sesungguhnya.  Namun karena saat ini manusia banyak dipengaruhi oleh berbagai keadaan yang sangat berpengaruh kepada kehidupannya maka manusia tidak menghiraukan atau melupakan apa yang ada dalam KATA HATI tadi dan hal ini menuntunnya untuk menjadikannya seorang yang egois, mementingkan diri sendiri, merasa paling benar, paling pintar, paling mulia dan berbagai paling lainnya yang akan menjadikannya sanggup berbuat segala cara agar tercapai apa yang diinginkannya. Keadaan ini dialami tak memandang tingkatan, entah itu pemimpin, pejabat, tokoh agama, masyarakat, kaum ibu dan perempuan, pemuda, mahasiswa dan pelajar dsb yang menuntun mereka berbuat kejahatan, kenistaan dan kejelekan yang menurunkan citra manusia sebagai makhluk Allah yang mulia.

Maka maraklah korupsi, penipuan, pemalsuan, krimina­litas, kekerasan, tawuran, pelecehan, perampasan hak orang lain, perusakan sumber daya dan kelestarian alam serta berbagai perbuatan yang jauh dari sifat kebaikan dan ke­bajikan. Kita juga akan kehilangan rasa keikhlasan berbagi dengan orang lain, kebersamaan dan kepedulian terhadap orang dan lingkungan kita, pada akhirnya kita akan terpecah belah karena tidak ada lagi persatuan dan kesatuan diantara kita. Manusia kemudian kehilangan nilai kepribadian yang memiliki makna buat dirinya.

Menyongsong masa depan yang semakin penuh tantangan akibat pesatnya populasi umat  manusia, makin menipisnya sumber daya alam karena eksploitasi yang berlebihan disebabkan ulah keserakahan manusia, kebersamaan antara individu manusia sebagai masyarakat dan bangsa  merupakan faktor utama penentu keberhasilan manusia menata hidup dan kehidupannya. Untuk itu marilah kita mencoba mendengarkan KATA HATI kita dan dengan melakukan itu, maka akan terbukalah kepekaan kita terhadap orang lain dan lingkungan sekeliling kita. Kita akan berubah menjadi seseorang yang baru dengan sifat-sifat yang santun, bijak dan arif terhadap segala apa yang ada di dalam kehidupan kita. Kita akan merasakan indahnya anugerah Tuhan yang diberikanNya kepada kita, yang patut kita syukuri dengan sepenuh hati dan jiwa kita. Dengan kondisi ini maka kita akan dapat menyelesaikan segala permasalahan secara bersama-sama sebagai bangsa yang kokoh dan tegar menghadapi tantangan jaman. Mengapa saat ini kita  masih terkotak-kotak dalam berbagai kepentingan yang sebenarnya dapat diselesaikan bila bermuara kepada kepentingan bersama ? Cobalah tengok bahwa diantara yang menderita akibat ulah dan keserakahan kita ada saudara kita sendiri, famili, rekan, kerabat dan sahabat kita. 

Kearifan seseorang yang mau mendengarkan KATA HATI akan membawa pengaruh ke area sekitarnya ibarat sinar lampu yang menerangi kegelapan dan akan menuntun jalan bagi orang lain yang membutuhkan keluar dari ketersesatan, ketidaktahuan dan keterpurukan yang selama ini melingkupi mereka. Mungkin selama ini kita kurang peka mendengarkan KATA HATI tetapi hal ini bisa kita latih sedikit demi sedikit dengan cara melakukan perenungan saat kita melakukan ibadah sesuai agama kita masing-masing yang akan mengasah pikiran dan hati nurani kita menuju khusyuknya pencarian jati diri kita sendiri sebagai manusia. Disinilah kita bisa menitikkan air mata tulus yang benar-benar murni tanpa pamrih. Semoga kita bisa memulai mendengarkan KATA HATI dengan sebenar-benarnya.

Kita dan dunia akan semakin tua dan permasalahan akan semakin banyak terutama dipicu perkembangan perekonomian dunia yang makin tak menentu. Seluruh umat manusia semakin dituntut untuk memiliki kiprah nyata menjalani hidupnya dalam bentuk kemitraan yang harmonis dalam tatanan wadah komunitas masyarakat dan bangsa. Dengan berlandaskan bahwa kita mau mendengarkan KATA HATI tuntutan diatas tidaklah sulit untuk dilakukan dan solusi yang tepat dan cepat akan membawa kita keluar dari keterpurukan yang selama ini membelenggu diri kita dalam sebuah ruang sempit kesendirian.

Dengan senantiasa berkaca kepada isi KATA HATI maka kita akan dapat mengisi hari-hari dalam hidup kita dengan penuh kebahagiaan yang terpancar dari lubuk hati kita yang akan berbias pada seluruh alam sekeliling kita. Tanpa terasa dengan menanam satu kebaikan setiap satu hari akan menjadikan kita memiliki kebajikan yang luar biasa.

Berikut ada ceritera yang dapat kita simak tentang apa yang ada dibaliknya.
Dikala saya masih anak-anak  saya selalu diajak ajak saya untuk mengunjungi seorang kiai di daerah Bendo, Malang. Anehnya setiap ayah saya ingin berkunjung kesana (ayah saya seorang Wedana), jauh sebelumnya Kiai Bendo sudah menyuruh para santrinya untuk menyiapkan makan bagi tamunya. Pada kunjungan berikutnya datanglah seorang kiai muda lulusan pesantren terkenal ke rumah ayah dan berkata ingin ikut bersama kami bersilaturahmi ke Kiai Bendo. Kami berangkat dan setiba disana Kiai Bendo yang sudah sepuh (mungkin berusia sekitar 85 tahun atau lebih), giginya sudah banyak yang tanggal, penglihatannya sudah kabur dan jalannya terseok-seok dan bungkuk, sudah menyambut kami dan langsung mengajak kami ke paseban dimana makan sudah disiapkan karena perjalanan dari Malang ke desa Bendo cukup memakan waktu dan kami tiba disana sudah menjelang sore. Berbagai lauk mulai ayam, kambing, sapi dan ikan terhidang bersama nasi putih yang masih mengepulkan asapnya. Kami makan bersama dan selesai makan ayah dan kiai muda tadi berbincang-bincang dengan Kiai Bendo sambil menunggu tibanya saat magrib dimana kami akan sholat bersama Kiai Bendo. Tibalah saat magrib dan kami sholat berjamaah dengan Kiai Bendo sebagai imamnya. Beliau mengimami dengan suara dan bacaan yang menunjukkan sepuhnya beliau. Tak ada kejadian apapun saat kami sholat dan setelah selesai sholat kami kembali duduk-duduk  bersama. Tiba-tiba Kiai Bendo memanggil santrinya dan minta dibawakan telur ayam mentah 6–7 butir dalam cawan yang cukup besar. Kemudian beliau meminta ayah dan sang kiai muda untuk mengambil masing-masing sebutir dan digenggam. Beliau juga mengambil sebutir dan kemudian berkata: “ Pak Wedana dan kiai mari kita baca Al Fatehah  agar Allah memberikan petunjuk kepada kita!”.

Kemudian secara bersama-sama kami membaca Al Fatehah dan seusai itu  Kiai Bendo meminta kepada ayah dan kiai muda untuk memecahkan telur ditangan masing-masing. Telur di tangan ayah dan sang kiai muda pecah dan isinya meleleh membasahi cawan untuk tempat telur-telur tadi.  Tibalah giliran Kiai Bendo memecahkan telur ditangannya. Maha Besar Allah, ternyata telur digenggaman Kiai Bendo matang dan oleh beliau dikupas kemudian diberikannya kepada saya untuk dimakan. Ayah dan sang kiai muda bertanya kepada Kiai Bendo ilmu dan hikmah apa yang ada dibalik peristiwa itu. Dengan senyum penuh kearifan beliau menjelaskan bahwa tadi saat sholat beliau merasakan bahwa sang kiai muda kurang mantap dan khusuk karena suara dan bacaannya yang terbata-bata dan napas yang agak tersengal-sengal. Beliau mengatakan bahwa Allah menilai manusia bukan dari tampilannya yang bagus tetapi dari tulus dan ikhlasnya untuk berserah diri kepadaNya. Dari saat menggenggam telur inilah dibuktikan bahwa Allah akan mendengar dan mengabulkan permohonan kita bila kita memiliki ketulusan untuk mengorbankan dan mengenyampingkan kepentingan kita bagi orang lain, alam dan lingkungan maka Allah akan ridha terhadap apa yang kita perbuat. Subhanallah, suatu pelajaran yang tak akan pernah kita temui di bangku sekolah atau di kehidupan di tengah masyarakat. Suatu pelajaran yang benar-benar langka dan jarang didapatkan !!

Dari hal diatas saya mendapatkan suatu pelajaran bahwa bukanlah kata-kata dari mulut dan bentuk tampilan kita yang dapat mengungkapkan jati diri kita tetapi kata hati kita yang bersih dan penuh kesungguhan (sincerity) menunjukkan siapa kita  yang sebenarnya. Jika hati kita bersih maka bersih pula pikiran kita. Dengan kebersihan pikiran itu maka akan bersih pula perkataan dan ucapan kita. Jika perkataan kita bersih (baik) maka akan bersih (baik) pula perbuatan kita. Hati, pikiran dan perkataan kita mencerminkan hidup kita. Maka orang yang ingin meraih sukses haruslah selalu menjaga kebersihan hati.

Karena manusia ditakdirkan sebagai makhluk yang mulia, maka secara naluriah dia akan selalu berusaha berbuat kebaikan dan kebajikan. Dan perbuatan itu sebagian besar diberikan secara ikhlas, yang kemudian dinikmati dan dirasakan oleh orang-orang lain dan orang banyak, yaitu orang-orang yang kita kasihi, sayangi dan cintai. Seorang ayah akan sekuat tenaga membanting tulang untuk mencari nafkah halal bagi keluarganya dan hasil jerih payahnya akan dinikmati dan dirasakan oleh keluarga yang dicintainya. Demikian pula bila seorang pemimpin berjuang. Dengan itu maka orang-orang tersebut menjadi “ pribadi yang bermakna “, yang senantiasa mereka rindukan kehadirannya. 

Mereka akan mewujudkan perasaan dan ekspressi bukan dalam bentuk kata-kata, sebab tidak ada satu katapun yang dapat mengungkapkan dan mewakili rasa hati mereka yang sebenarnya, yang penuh harap, penuh bangga, penuh kasih, sayang dan cinta, penuh terima kasih dlsb kepada kita. Cobalah rasakan ketika keluarga melepas kita saat kita harus bertugas lama ke luar daerah atau keluar negeri. Misalnya saat pasukan kontingen Garuda mau berangkat tugas ke luar negeri yang hampir memakan waktu setahun. Maka sorot  mata, cara memandang, cara menyambut, jabat tangan yang erat, pelukan yang hangat dan akrab, ciuman anak-anak, lambaian tangan dan berbagai hal lainnya adalah ungkapan perasaan dan hati mereka yang paling murni, yang tak bisa menipu apa yang ada di diri kita.          

Dengan apa yang kita lakukan maka kita akan dijadikan idola, panutan, kekasih bahkan pahlawan hati mereka.  Maka jagalah kepribadian anda agar tetap mulia, sebab bila harkat dan derajat anda jatuh karena anda melakukan kesalahan maka merekalah yang akan menerima dan merasakan dampak buruknya atau bahkan menghancurkan mereka. Lihatlah ke sekeliling anda, betapa banyak keluarga yang hancur karena pemimpin keluarga terlibat korupsi, narkoba dan berbagai hal buruk lainnya. Citra dan kehormatan diri dan keluarga yang bertahun-tahun dibina, hancur dalam sekejap mata saja. Semua karena disilaukan oleh kesenangan duniawi yang cuma sekejap dan menipu kita shingga kita lupa bahwa ada kehidupan lain yang lebih kekal dan abadi di surganya Allah. Apakah jabatan, kekuasaan, harta melimpah ruah dlsb dapat menyelamatkan kita dari kematian ? Apakah semua itu akan kita bawa ketika kita menghadap Allah, Sang Khaliq Pencipta kita ??

Dari ceritera diatas kita memiliki kata kunci yaitu :
Kata hati perlu didengarkan sebab merupakan  pedoman utama untuk membuat keputusan.
Keputusan yang kita ambil harus memberikan rasa lega dan nyaman kepada diri kita .
Hanya hati dan diri kita sendirilah yang  tahu dan dapat menjawab apa yang harus atau tidak kita lakukan dan apa yang kita butuhkan.

Kata hati yang tulus dan ikhlas akan membuka ridho dan rakhmat serta barokah Allah Swt.
Kekayaan harta dapat dilihat dan dirasakan oleh orang lain tetapi kekayaan jiwa, kita sendirilah yang memilikinya.

Hati nurani tak bisa bohong dan dari sini anda tahu apa yang anda rasakan, apa yang anda ingin dapatkan dan apa yang ingin anda perbuat.
Kunci Membuat Keputusan Yang Melegakan
Sebelum membuat keputusan adakan inventarisir hal-hal yang berkaitan dengan :
Apakah masalah utama yang sedang kita hadapi ?
Bagaimana keadaan situasi dan kondisi sekitar kita berkaitan dengan pekerjaan atau kehidupan saya yang mengharuskan saya menentukan sikap ?
Tindakan saya harus mencerminkan apa yang akan saya lakukan dengan apa yang telah saya ambil sebagai keputusan.
Saya mungkin saat ini belum melakukan sesuatu tetapi saya akan melakukan sesuatu walaupun saya belum yakin kapan atau apa yang akan saya lakukan
     Saya harus menuliskan langkah-langkah yang harus saya lakukan dan untuk itu ada jadwal yang  harus kuikuti.